Showing posts with label mata kuliah produksi. Show all posts
Showing posts with label mata kuliah produksi. Show all posts

√ JANGKA SORONG CARA MEMBACA SAMPAI CARA MENGGUNAKANNYA

Jangka sorong adalah suatu alat ukur yang dapat dipakai untuk berbagai macam pengukuran. Alat ukur ini selain multifungsi juga memiliki tingkat keakuratan yang sangat tinggi. Jika dibandingkan dengan alat ukur lainnya jangka sorong termasuk dalam alat ukur yang paling rinci. Dalam blog Santika aji ini terdapat ulasan lengkap tentang jangka sorong. Dimana dengan tulisan ini semoga dapat membantu sahabat sekalian dalam memahami seluk-beluk tentang alat ukur jangka sorong tersebut.

Materi alat ukur selain jangka sorong juga ada lo didalam blog ini, jadi jika sahabat ingin mencari materi lain seputar alat ukur dapat mencarinya lewat kolom pencarian diatas blog ini atau memilih tag / label / kelompok alat ukur yang terdapat pada bilah kanan (untuk browser desktop) atau terdapat pada bagian bawah (untuk browser mobile).

https://santikoaji.blogspot.com/2018/10/jangka-sorong-cara-membaca-sampai-cara-menggunakannya.html
Jangka sorong / Vernier caliper

Apa itu jangka sorong dan fungsinya?

Dari sejarahnya jangka sorong telah ada sejak zaman yunani dan romawi kuno, namun pada saat itu alat ukur jangka sorong memiliki bentuk yang berbeda dengan yang ada saat ini. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya alat ukur yang mirip seperti jangka sorong pada reruntuhan insiden kecelakaan kapal (The Greek Giglio Wreck). Bangsa Cina juga dianggap telah menggunakan jangka sorong ketika era Dinasti Han (202-220 SM). Alat ukur tersebut dibuat dari bahan perunggu dan bertuliskan tanggal pembuatannya. Selain digunakan untuk mengetahui ukuran suatu benda, zaman dahulu bangsa Eropa juga menggunakannya sebagai penunjuk arah.

Sedangkan jangka sorong yang biasa kita gunakan saat ini ditemukan di kota Oranan, Perancis pada tahun 1600-an. Alat ukur ini dirancang dan dibuat oleh seorang ahli matematika dan sains bernama Pierre Vernier. Beliau adalah orang yang menciptakan skala yang diberi nama skala vernier atau lebih dikenal sebagai skala nonius. Penjelasan mengenai skala nonius telah ia sebutkan di dalam buku karangannya yang berjudul “La construction, visage, et les proprietes fue quadrant nouvea de mathmatiques“. Skala nonius adalah sebuah skala yang terdapat dalam jangka sorong.

Pemakaian nama skala nonius dipakai oleh kebanyakan orang yang hidup sejak sebelum abad ke 19. Dimana nama skala tersebut ditemukan oleh seseorang berkebangsaan spanyol bernama Dedron Nunes. Akan tetapi di awal abad ke-19, seorang bangsawan berkebangsaan Perancis mengubah nama skala tersebut kembali kepada skala vernier. Jangka sorong modern yang sering digunakan sekarang ini pertama kali diproduksi oleh Joseph Brown pada tahun 1851.

Jangka sorong memiliki nama lain dalam Bahasa Inggris yaitu Vernier Caliper. Alat ini sangat praktis dan dijual dengan harga terjangkau sehingga alat ukur ini banyak dipakai karena praktis, akurat dan relatif ekonomis.

Fungsi jangka sorong adalah untuk mengukur diameter baik diameter dalam ataupun diameter luar, mengukur panjang, mengukur tebal, mengukur kedalaman dan mengukur celah / rongga pada suatu benda. Dengan fungsi yang beragam tersebut maka alat ukur ini banyak digunakan untuk mengkur suatu benda, sehingga sangat penting untuk mempelajari dan memahami alat ukur ini.

Bagian-bagian jangka sorong

https://santikoaji.blogspot.com/2018/10/jangka-sorong-cara-membaca-sampai-cara-menggunakannya.html
Jangka sorong dan bagiannya
Jangka sorong terbagi menjadi 6 (enam) bagian penting yang harus diketahui nama serta penjelasannya supaya tidak keliru dalam penggunaannya. Bagian-bagian jangka sorong tersebut adalah ;
  1. Rahang Dalam (Inners Jaws)
    Rahang dalam atau disebut juga dengan Inners Jaws terdiri dari rahang geser dan rahang tetap. Rahang dalam memiliki fungsi untuk mengukur dimensi luar atau sisi bagian luar sebuah benda misal tebal, lebar sebuah benda kerja, atau diameter luar sebuah kaleng.
  2. Rahang Luar (Outer Jaws)
    Bagian ini terdiri dari rahang geser dan rahang tetap. Rahang luar memiliki fungsi untuk mengukur diameter dalam atau sisi bagian dalam sebuah benda, misalnya diamater hasil pengeboran atau diameter sebuah lubang. Selain itu bagian rahang luar atau Outer jaws memiliki fungsi untuk mengukur diameter bagian dalam, sisi dalam, ketebalan dan lebar suatu benda.
  3. Pengukuran Kedalaman (Depth Measuring Blade)
    Bagian ini umumnya terletak bagian ujung jangka sorong. Pengukur kedalaman atau depth measuring blade memiliki fungsi untuk mengukur ketinggian, kedalaman, ceah/rongga dan ketebalan suatu benda. Bagian pengukur kedalaman terbagi menjadi dua bagian. Satu bagian dapat digeser dan satu bagian yang lain tidak bisa geser atau tetap.
  4. Skala Utama Hasil Pengukuran
    Skala utama memiliki bagian yang bisa digeser serta bagian yang tetap atau tidak bisa diubah. Untuk hasil pengukuran bagian ini memiliki dua jenis skala satuan. Pertama satuan imperial atau inch yang berada pada bagian atas. Sedangkan yang satunya berada di bagian bawah dengan satuan skala metrik yakni milimeter atau centimeter. Skala utama dalam bentuk satuan cm memiliki fungsi untuk menyatakan ukuran utama dalam bentuk centimeter (cm) yang disebut juga metric scale, dan dalam bentuk satuan inchi untuk menyatakan ukuran utama dalam bentuk inchi yang disebut juga imperial scale. Bagian skala utama hasil pengukuran memiliki fungsi untuk menampilkan skala utama pada hasil pengukuran. Pada bagian ini terdapat garis-garis dan nilai yang digunakan untuk melihat nilai ukuran suatu benda.
  5. Skala Vernier atau Skala Nonius
    Alat ukur jangka sorong memiliki 2 jenis skala nilai, yaitu skala metrik dengan satuan mm atau cm di bagian atas. Serta menampilkan skala imperial dengan satuan inch pada bagian atas. Skala nonius berfungsi untuk menampilkan hasil pengukuran suatu benda di skala nilai utama. Dan skala bentuk desimal dari hasil pengukuran utama. Skala nonius dalam bentuk milimeter berfungsi sebagai skala pengukuran fraksi dalam bentuk mm. Skala nonius dinamakan juga skala Vernier, untuk menghormati nama penemunya Piere Vernier, ahli teknik berkebangsaan Prancis. Panjang 10 skala nonius adalah 9 mm. Jadi, 1 bagian skala nonius (jarak antara dua garis skala nonius yang berdekatan) sama dengan 0,9 mm. Untuk ukuran inci, garis skalanya ada pada bagian atasnya.
  6. Mur Pengunci (Locking Screw)
    Mur pengunci atau locking screw berfungsi untuk mengunci atau menahan bagian-bagian yang bergerak saat berlangsungnya proses pengukuran misalnya mengunci bagian rahang dan Depth probe. Dengan begitu nilai yang dihasilkan dari pengukuran dapat lebih akurat.

Bagaimana cara menggunakan jangka sorong?

Menyiapkan alat dan bahan
Meletakkan alat dan bahan pada tempat yang datar serta nyaman
Mengukur kedalaman, diameter luar dan diameter dalam pada gelas 600 ml
Mengukur kedalaman, diameter luar dan diameter dalam pada gelas 100 ml
Mengukur panjang pada dadu mata 6
Menentukan skala utama dan skala nonius
Membuat tabel hasil pengamatan

Bagaimana cara membaca jangka sorong?



Berapa tingkat ketelitian jangka sorong?

Jangka sorong memiliki nilai ketelitian yang sangat rinci. Nilai keteliannya mencapai 0.01 mm. Terdapat dua jenis jangka sorong yaitu jangka sorong analog dan jangka sorong digital. Tingkat ketelitian jangka sorong analog pada umumnya adalah 0.05mm untuk jangka sorong di bawah 30 cm dan 0.01 untuk yang di atas 30 cm

Langkah-langkah menghitung jangka sorong



Jangka sorong dipakai mengukur apa saja?






√ Pengertian las asetelin dan peralatanya

Las asetilin / asetilen

Pengertian Las Oksi-Asetilin.        
Las Oksi asetilin adalah pengelasan yang dilaksanakan dengan pencampuran 2 jenis gas sebagai pembentuk nyala api dan sebagai sumber panas.

Peralatan  Las Asetilin 
Peralatan las asetelin pada umumnya terdapat lima komponen, komponen-komponen tersebut akan kami jabarkan sebagai berikut;

1. Botol gas asetilin dan botol oksigen.
Botol gas asetilin terbuat dari baja yang berisi gas asetilin yang telah dimanfatkan dengan volume 40 liter Dan tekanan hingga 15 bar.

Botol oksigen juga terbuat dari baja yang berisi gas oksigen yang telah dimanfatkan dengan tekanan gas sampai 151 bar. Di atas botol oksigen dipasang sebuah keran yang dilengkapi dengan sumbat pengaman. Bila tekanan gas dalam botol naik karena pengaruh panas, maka sumbat akan pecah dan gas kelebihan akan keluar. Gas oksigen yang dapat diisikan pada botol tersebut sebanyak 74,5 m3 dengan kadar gas oksigen murni 99,5 %.           

2.  Generator asetilin
Gas asetilin dapat dibuat secara sederhana dengan cara mencampur karbit di tambah air dengan rumus kimia CaC2 + 2H2O       C2H2 +  Ca (OH) + kalor. Pencampuran ini dilakukan dalam sebuah tabung yang disebut generator asetilin. Bagian-bagian utama dari generator asetilin adalah ruang karbit dan dapur gas, ruang air, ruang gas asetilin, kunci air, alat pmbersih gas, alat pengaman bila kelebihan gas.

3.  Regulator
Regulator berfungsi untuk mengatur tekanan isi menjadi tekanan kerja  yang tetap besarnya. Pada regulator terdapat dua manometer yaitu manometer tekanan isi dan manometer tekanan kerja. Yang dimaksud tekanan isi adalah tekanan gas yang berada dalam botol.
Sedangkan yang dimaksud tekanan kerja adalah tekanan yang dibutuhkan pada waktu melakukan pekerjaan las.

4.  Pembakar (torch)
Fungsi pembakar pada las asetilin adalah untuk mencampur oksigen dan gas   asetilin yang jumlah isinya hampir sama. Pada pembakar dapat dipasang berbagai ukuran ujung pembakar, untuk memperoleh nyalah api yang sesuai dengan tebal benda kerja yang akan di las atau dipotong. Pembakar berhubungan dengan dua selang yaitu selang untuk gas asetilin dan selang untuk gas oksigen.

Ruang pencampur dan keran pengisi berfungsi untuk mengatur banyaknya oksigen dan asetilin yang digunakan. Dikenal dua jenis pembakar yaitu pembakar tekanan rendah dan pembakar tekanan rata.

5. Selang Las
Selang berfungsi untuk menyalurkan gas dari botol gas atau regulator ke pembakar. Selang ini harus tahan tekanan tinggi tetapi lemas atau tidak kaku. Selang gas biasanya berwarna hitam atau hijau. Pada ujung-ujung selang terdapat pula mur pengatur dengan ulir kiri. Fungsi mur pengatur   pada kedua selang tersebut adalah untuk mengikat regulator dan mengikat pembakar.

Untuk menjaga kekeliruan saat pengikatandengan regulator dan pembaklar maka baut dan mur pengikat dibedakan satu sama lain, begitu juga bentuk nipelnya dibuat berbeda.


√ Pembuatan Oksigen Dan Pembuatan Asetelin




Pembuatan Oksigen
Secara teknis, oksigen di dapat dari udara yang dicairkan. Kemudian dengan cara elektrolisa, campuran udara cair dan air dipisahkan oleh oksigen. Masalah yang sulit adalah antara Nitrogen dan Oksigen . 

Nitrogen titik didihnya lebih besar, dan titik didih kedua gas tersebut hanya berbeda 13 0C saja. (Oksigen = -183 0C dan Nitrogen = -196 0C),  sehingga perlu pemurnian oksigen  dilaksanakan secara berulang-ulang. Kemurnian yang dapat dicapai sampai 99,5 % dan kemudian dimanfaatkan dalam tangki-tangki baja dengan tekanan kerja antara    15-30 atm. 

Keuntungan pemakaian oksigen adalah keadaan oksigen yang cukup cair tersebut, dapat dipertahankan  pada tangki penyimpan dan mudah  pada saat pengangkutan. Pada saat dibutuhkan dengan menggunakan alat  (Gasificator), oksigen cair dijadikan oksigen gas, dengan tekanan yang besar  kemudian oksigen gas tersebut disimpan pada botol-botol baja. 

Tekanan pada botol-botol baja dibagi berdasarkan kelas. Kelas medium tekanannya sampai 15 atm dan kelas tekanan tinggi sampai dengan 165 a atm.

Oxygen Quality Control
Untuk mengetahui kemurnian oksigen, dipakai alat Oxygen Purity Test Ap Apparatus, pada  prinsipnya adalah mereaksikan oksigen dengan larutan ammonia (NH4OH) + CU CL2 , sisa yang tidak terlarut adalah nitrogen dan argon.

Pembuatan Asetilin
Secara komersial (C2H2) untuk industri las karbit, diperoleh dengan mereaksikan  kalsium karbid dengan air.  Jadi asitelin adalah gas hidro karbon yang diperoleh dari unsur-unsur kapur, karbon dan air dengan reaksi sebagai berikut :   Ca O + 3 Ca C2 + Co 108 + k .kal/g.mole (jadi pembakaran kapur dengan karbon tanpa  udara). 

Asetilin tidak berbau dan tidak berwarna, sedangkan dalam perdagangan ada bau khusus karena ada kotoran belerang dan phosphor. Asetilin murni mudah meledak karena faktor-faktor tekanan dan temperature. Tetapi faktor-faktor lain yang  mempengaruhi expobility dari asetilin adalah adanya kotoran-kotoran, katalisator, kelembaban, sumber-sumber penyalaan, ukuran dan bentuk tangki.

Karena alasan-alasan tersebut di atas, pada asetilin generator dibatasi, tekanan asetilin maksimum 5 atm. Karena asetilin di atas tekanan 2 atm dapat meledak. Untuk mengatasinya jika asetilin disimpan di dalam botol bertekanan lebih besar dari 2 atm, harus  dilarutkan  pada aseton cair.

Caranya adalah melapisi dinding dalam botol pen yimpanan dengan asbes ferrous  dan dicelupkan dengan acetone cair.  

√ Perlengkapan Las Asetelin

Sebelum kita mulai menggunakan las asetelin untuk mengelas, terlebih duu kita persiapkan perlengkapan dengan tepat dan efektif. Hal ini bertujuan untuk memudahkan kita melakukan pekerjaan pengelasan. Ketika perlengkapan untuk pengelasan telah kita siapkan, maka kita tidak perlu bolak balik untuk mencari perlengkapan yang digunakan untuk mengelas.

Efektifitas perlengkapan las juga sangat penting, karena jika kita tidak memilih perlengkapan secara efektif maka yang terjadi adalah menumpuknya perlengkapan lain yang sebenarnya tidak kita butuhkan dalam proses pengelasan.
https://santikoaji.blogspot.com/2017/06/perlengkapan-las-asetelin.html
Perlengkapan las asetilin - Santika Aji

Untuk itu kita perlu mengetahui apa saja perlengkapan las asetelin, berikut aartikel tentang perlengkapan las asetelin ; 

1.Korek Api Las
Korek api las digunakan untuk menyalakan gas, karena tangan kita posisinya terlalu dekat dengan ujung pembakar sehingga sangat mudah terjilat api. Untuk itu menyalakan gas ini biasanya digunakan korek api las.

2.Sikat kawat (wire brush) 
Sikat kawat berfungsi untuk membersihkan benda kerja yang akan dilas dan sisa-sisa terak yang masih ada setelah dibersihkan dengan palu terak. Bahan serabut sikat terbuat dari kawat-kawat baja yang tahan terhadap panas dan elastis, dengan tangkai dari kayu yang dapat mengisolasi panas dari bagian yang disikat.

3.Palu las (chipping hammer).
Palu las digunakan untuk membersihkan terak yang terjadi akibat proses pemotongan dan pengelasan dengan cara memukul atau menggores teraknya. Pada waktu membersihkan terak, gunakan kacamata terang untuk melindungi mata dari percikan bunga api dan terak.

Ujung palu yang runcing digunakan untuk memukul pada bagian sudut rigi-rigi. Palu las sebaiknya tidak digunakan untuk memukul benda-benda keras, karena akan mengakibatkan kerusakan pada bentuk ujung-ujung palu sehingga palu tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

4.Tang penjepit 
Tang elektroda digunakan untuk menjepit elektoda las. Alat ini terdiri atas mulut penjepit dan pegangan yang dibungkus penyekat

5.Air
Air digunakan untuk mendinginkan benda kerja setelah pengelasan.

Demikian lima perlengkapan dasar dalam pengelasan menggunakan las asetelin, semoga artikel perlengkapan las asetelin ini bermanfaat bagi sahabat sekalian.


√ Bagian - bagian las asetilin / asetilen dan penjelasannya

Bagian - bagian las asetilin / asetilen:

  1. Tabung oksigen
  2. Katup silinder oksigen
  3. Katup silinder asetilin/asetilen
  4. Torch / brander
  5. Selang oksigen
  6. Saluran asetilen
  7. Tabung asetilen
  8. Regulator asetilen
  9. Regulator oksigen
  10. Katup pengatur tekanan
Las asetilen adalah pengelasan yang dilaksanakan dengan pencampuran 2 jenis gas sebagai pembentuk nyala api dan sebagai sumber panas. Las asetilen juga biasa disebut dengan las karbit dimana pengelasannya menggunakan gas asetilen (C2H2) sebagai bahan bakar. Prosesnya adalah membakar bahan bakar yang telah dibakar dengan gas oksigen (O2) sehingga menimbulkan nyala api dengan suhu sekitar 3.500°C dan dapat mencairkan logam induk serta logam pengisi. Gas Asetilen diproduksi melalui reaksi antara Kalsium Karbit (CaC2) dengan air (H20).

CaC2 + 2H2O → Ca(OH)2 + C2H2

Teori las asetilen sebaiknya dipahami dahulu sebelum menggunakan las asetilen supaya tidak terjadi kesalahan yang bisa menyebabkan kecelakaan kerja. Oleh karena itu blog ini menyajikan teori tentang las asetilen dan berbagai teori lainnya. Sedangkan pada halaman ini khusus membahas tentang penjelasan bagian-bagian las asetilen yang semoga dapat mudah untuk dipahami sahabat sekalian.


Tabung oksigen

https://santikoaji.blogspot.com/2017/06/bagian-bagian-las-asetelin.html
Tabung gas oksigen dan asetilen/asetilin
Tabung oksigen berfungsi untuk menampung gas oksigen. Tabung oksigen biasanya berwarna biru atau hitam, mempunyai katub atau pembuka katup berupa roda tangan, baut serta mur pengikatnya menggunakan ulir kanan. Bagian atas ada dudukan untuk memasang regulator.

Katup silinder oksigen

https://santikoaji.blogspot.com/2017/06/bagian-bagian-las-asetelin.html
Katup silinder oksigen las asetilen

Katup silinder oksigen terletak diujung atas silinder berguna untuk membuka atau menutup keluarnya oksigen sesuai keperluan. Dalam katup ini terdapat lubang pengaman dimana jika temperatur naik maka tekanan akan naik, tekanan akan dikurangi lewat pengaman ini .



Katup silinder asetilin

https://santikoaji.blogspot.com/2017/06/bagian-bagian-las-asetelin.html
Katup silinder asetilen

Katup silinder asetilin terletak diujung atas berguna membuka atau menutup keluarnya asetilin juga terdapat pengaman yang akan mencegah terjadinya ledakan karena tekanan panas dari dalam silinder.



Torch / brander

https://santikoaji.blogspot.com/2017/06/bagian-bagian-las-asetelin.html
Torch / brander las asetilene
Torch / brander merupakan tempat bercampurnya gas asitelin dan oksigen setelah melalui proses pembukaan katup-katup penyetelan gas asetilene dan oksigen pada brander. Campuran gas asetilen dan oksigen mengalir melalui batang brander menuju saluran keluar pada ujung brander yang berlubang.

Selang oksigen

https://santikoaji.blogspot.com/2017/06/bagian-bagian-las-asetelin.html
Selang oksigen las asetilen / asetilin

Selang Oksigen merupakan penghubung antara gas oksigen yang keluar dari tekanan kerja regulator dengan brander las. Selang oksigen berwarna hijau/biru dan memiliki ulir kanan. Selang, dibuat spesial mampu manahan tekanan tinggi, dibuat dalam ukuran 3/16”, ¼”,3/8” and ½”.

Selang asetilen / asetilin

https://santikoaji.blogspot.com/2017/06/bagian-bagian-las-asetelin.html
Selang asetilen / asetilin

Selang asetilin merupakan penghubung antara gas asetilin yang keluar dari tekanan kerja regulator dengan brander las. Selang gas asetilin berwarna merah dengan ulir kiri.

Tabung asetilen / asetilin

https://santikoaji.blogspot.com/2017/06/bagian-bagian-las-asetelin.html
Tabung asetilen / asetilin

Tabung gas asetilin berfungsi untuk menampung gas gas asetilin. Untuk tabung gas asetilin menggunakan tabung berwarna putih atau kuning. Di dalam tabung asetilin terdapat beberapa alat misalnya bahan berpori seperti kapas sutra tiruan atau asbes yang berfungsi sebagai penyerap aseton, yaitu bahan supaya asetilin dapat larut dengan baik dan aman di bawah pengaruh tekanan. 

Dibagian bawah tabung diberi sumbat pengaman atau sumbat lebur akan meleleh dan lubang sumbat akan bocor bila sumbat pengaman mencapai suhu 100°C. Pengeluaran gas tidak boleh lebih dari 750 liter/jam. Tabung ini berisi 40 s.d. 60 liter gas asetilin, bentuknya pendek dan gemuk, biasanya berwarna merah.


Regulator asetilen / asetilin

https://santikoaji.blogspot.com/2017/06/bagian-bagian-las-asetelin.html
Regulator asetilen / asetilin

Fungsi dari regulator asetilin yaitu untuk mengukur tekanan gas di dalam tabung dan mengatur tekanan kerja pengelasan. Regulator asetilin berwarna merah. Regulator atau lebih tepat dikatakan Katup Penutup Tekan, dipasang pada katub tabung dengan tujuan untuk mengurangi atau menurunkan tekann hingga mencapai tekana kerja torch. 

Regulator ini juga berperan untuk mempertahankan besarnya tekanan kerja selama proses pengelasan atau pemotongan. Pada regulator terdapat bagian-bagian seperti saluran masuk, katup pengaturan tekan kerja, katup pengaman, alat pengukuran tekanan tabung, alat pengukuran tekanan kerja dan katup pengatur keluar gas menuju selang. 

Regulator asetilin memiliki jenis ulir kiri dan kemampuan regulator yaitu dibuat sampai 500 psi, dan tekanan kerja 15 psi.

Regulator oksigen

https://santikoaji.blogspot.com/2017/06/bagian-bagian-las-asetelin.html
Regulator oksigen las asitilen

Fungsi dari regulator oksigen ini yaitu untuk mengukur tekanan gas oksigen di dalam botol dan mengatur tekanan kerja pengelasan. Untuk regulator oksigen menggunakan warna hijau. Regulator ini juga berperan untuk mempertahankan besarnya tekanan kerja selama proses pengelasan atau pemotongan.

Ulir sambungan regulator oksigen menggunakan ulir kanan. Regulator oksigen, dimana tabung oksigen penuh tekanannya adalah 2200 psi, untuk mengelas tidak memungkinkan dengan tekanan sebesar itu maka perlu regulator. Regulator oksigen mampu menahan tekanan sebesar 3000 psi.


Katup pengatur tekanan (Silinder pressure)

https://santikoaji.blogspot.com/2017/06/bagian-bagian-las-asetelin.html
Katup pengatur tekanan

Pengatur tekanan atau lebih sering disebut katup pereduksi tekanan, dihubungkan pada katup gas atau oksigen untuk mendapatkan tekanan kerja yang sesuai dengan torch, pada umumnya terdiri dari kran yang dilengakapi dengan dua manometer, yang berhubungan langsung dengan gas asetilin atau oksigen disebut manometer isi.

Sedangkan yang berhubungan dengan torch disebut manometer kerja. Nosel didalam regulator terbuka dan tertutup oleh katup yang ditekan oleh pegas dan dihubungkan dengan membran. Dengan cara mengatur tekanan ulir pada membran, tekanan gas yang masuk ke torch mempunyai harga tertentu dan konstan.

Semoga artikel tentang bagian-bagian las asetelin ini dapat bermanfaat bagi sahabat sekalian. Jika ada kritik dan saran besar harapan dari saya untuk sahabat tuliskan pada kolom komentar blog ini. Untuk mencari artikel lain, silahkan sahabat ketik pada kolom pencarian pada bilah sebelah kanan, atau pilih label yang sesuai dengan keinginan sahabat.
Terima kasih.

√ Alat ukur dalam perbengkelan las karbit

Alat ukur dalam perbengkelan las karbit

Dalam perbengkelan las karbit mutlak diperlukan alat-alat pengukuran, mulai dari besaran tekanan serta volume gas dan asetilin, hingga besaraan panjang, maupun besaran sudut benda kerja guna menunjang kualitas hasil kerja. Alat- alat ukur yang diperlukan adalah alat-alat ukur dalam perbengkelan kerja bangku pada umumnya, ditambah alat khusus untuk mengukur tekanan gas dan asetilin.

Seperangkat alat ukur merupakan seperangkat alat pertukangan yang digunakan untuk pengukuran pada proses pekerjaan logam sehingga pekerjaan dapat dihasilkan dan dikontrol dengan cermat. Peralatan ukur dirancang untuk mendapatkan hasil ukuran dari suatu benda yang sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan ukuran yang tepat. Peralatan ukur merupakan alat pokok bagi seorang tukang sehingga jika digunakan dengan cara yang tidak benar maka keuntungan yang seharusnya diperoleh dari hasil pengukuran tersebut akan hilang begitu saja dan bahkan dapat merugikan serangkaian proses kerja.
https://santikoaji.blogspot.com/2016/07/alat-ukur-dalam-perbengkelan-las-karbit.html
Alat ukur dalam perbengkelan
Untuk itu salah satu faktor penting untuk belajar menjadi seorang pekerja orang bidang logam adalah mengenal terlebih dahulu nama - nama peralatan ukur dan fungsinya serta dapat mengetahui dengan tepat dan benar penggunaannya. Beberapa peralatan ukur yang biasa dipergunakan bidang pekerjaan logam adalah sebagai berikut :

Regulator

Regulator berfungsi untuk mengukur tekanan volume gas di dalam tabung, serta untuk mengatur tekanan kerja gas yang dikeluarkan, sehingga tekanan gas yang dikeluaarkan stabil, menghasilkan nyala las yang konstan, sesuai dengan harapan pengelas.

Terdapat dua macam regulator dalam perbengkelan las karbit, yakni regulator asetilin, dan regulator oksigen.

1. Regulator Asetilin
Regulator asetilin adalah regulator untuk mengukur tekanan volume dan tekanan kerja dari gas asetilin. Adapun ciri-ciri regulator asetilin adalah sebagai berikut :
  1. Skala tekanan volume hingga 35 kg/cm2.
  2. Skala tekanan kerja hingga 3,5 jg/ cm2.
  3. Berwarna merah / kuning/ orange.
  4. Dilengkapi baut pengikat, dengan arah ulir ke kiri.


2.Regulator Oksigen
Regulator oksigen adalah regulator untuk mengukur tekanan volume dan tekanan kerja dari oksigen. Adapun ciri-ciri regulator oksigen adalah sebagai berikut :
  1. Skala tekanan volume hingga 350 kg/cm2.
  2. Skala tekanan kerja hingga 30 kg/ cm2.
  3. Berwarna biru /hitam / abu-abu.
  4. Dilengkapi baut pengikat, dengan arah ulir ke kanan.


Cara mengatur tekanan kerja dengan regulator
Tekanan kerja adalah tekanan yang dibutuhkan pada waktu melakukan pengelasan. Cara pengaturannya dengan menggunakan regulator ialah :
  1. Kran pada tabung dibuka hinga memungkinkan gas keluar.
  2. Kran pengatur pada regulator diputar ke kanan (arah buka) hingga jarum penunjuk tekanan kerja menunjukkan tekanan sesuai keperluan.
  3. Tekanan kerja diatur dengan keadaan kran pembakar terbuka, sebab bila tekanan kerja diatur ketika kran pembakar tertutup maka pada saat memulai pengelasan tekanan kerja akan turun.

MISTAR UKUR

https://santikoaji.blogspot.com/2016/07/alat-ukur-dalam-perbengkelan-las-karbit.html
Macam macam alat ukur bengkel
Mistar ukur merupakan alat ukur yang sederhana yang dapat dipergunakan intuk mmperkirakan objek ukur. Kecermatan alat ukur ini hanyalah 0,5 mm. Yang termasuk ke dalam macam-macam mistar ukur ini ialah :
  1. Mistar baja, yang ada kalanya diberi kait pada ujungnya.
  2. Mistar lipat, yang biasanya terbuat dari bahan aluminium, baja, atau bahkan kayu. Dibandingkan dengan mistar biasa, hasil pengukurannya tidaklah lebh baik karena kemunginan adanya keausan pada engselnya, atau ketidaklurusan sewaktu mengukur.
  3. Mistar / meteran gulung, yang biasanya dibut dari pelat baja tipis, atau dari serat kain.

Mistar geser / Jangka sorong

Sering juga disebut dengan mistar ingsut, jangka geser, jangka sorong atau jangka ingsut.

Jangka geser nonius ( Vernier Caliper )
Pada umumnya mistar geser dapat bagian luar, bagian dalam, mupun untuk mengukur kedalaman. Namun ada mistar geser yang hanya dapat mengukur bagian luar dan bagian dalam saja.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan mistar geser :
  1. Rahang ukur gerak ( peluncur ) harus dapat meluncur pada batang ukur dengan baik tanpa goyang.
  2. Sebelum mengukur, periksa dahulu kedudukan nol serta kesejajaran dari kedua permukaan rahang.
  3. Ketegaklurusan alat ukur dengan benda ukur harus diperhatikan agar tidak terjadi kesalahan dalam pengukuran.
  4. Besarnya tekanan pada waktu mengukur harus diperhatukan. Tekanan yang terlalu kuat akan menyebabkan kemungkinan terjadinya pembengkokan rahang ukur, lidah / tanduk ukur, maupun ekornya.
  5. Untuk menghindari kesalahan paralaks pembacaan harus tegaklurus terhadap skala alat ukur.
  6. Jangan menggunakan mistar geser untuk keperluan lain selain mengukur, seperti mencongkel, memukul, maupun menggores benda kerja.
  7. Penyimpanan mistar geser jangan saling bertumpuk dengan alat kerja yang lain.


Mistar Geser Jam (Dial Caliper )
Mistar geser jam adalah mistar geser yang dilengkapi dengan jam ukur. Jam ukur ini berfungsi sebagai pengganti skala nonius. Melalui roda gigi pada poros jam ukur dan gigi batang pada mistar, gerak lurus diubah menjadi gerak putar pada jarum jam.

Mistar Geser Ketinggian (Height Gauge)

Alat ukur ini berfungsi untuk mengukur ketinggian. Dalam penggunaannya mistar geser ketinggian ini memerlukan alat bantu, yaitu meja rata. Mistar geser ketinggian ini dilengkapi dengan rahang ukur yang dapat bergerak relativ terhadap batang berskala yang tegak lurus dengan landasannya. Penunjuk dari alat ukur ini dapatmenggunakan nonius dengan skala utama pada batang tegak, juga dapat menggunakan jarum jam. Namun kebanyakan mistar geser yang ada saat ini telah menggunakan penunjuk digital.

Dengan bantuan peralatan lain yang dipasang pada peluncur, mistar geser ketinggian ini dapat berfungsi untuk berbagai macam keperluan, antara lain :
  1. Mengukur ketinggian. Harga dari pengukuran ketiggian ini dapat dibaca pada skala utama dan nonius yang berada pada peluncur, yang bergerak vertikal relativ terhadap bidang datar, yang dapat berupa meja rata, atau terhadap permukaan yang lain sehingga hasil ukur dapat diketahui.
  2. Untuk menggores. Ujung dari rahang ukur biasanya runcing serta dibuat karbida atau logam keras, sehingga dapat digunakan sebagai penggores pada ketinggian tertentu.
  3. Sebagai pembanding. Rahang ukur dapat diganti dengan jam ukur (dial comparator) sehingga dapat membaca selisih pengukuran ketinggian dari dua permukaan yang hampir sama. Pada pengukuran ini diperlukan alat ukur standar.
  4. Alat ukur kemiringan. Pada pelunucnya dapat dipasangkan busur derajat universal, sehingga dapat membaca kemiringan relativ suatu permukaan terhadap bidang datar / meja  rata.

Busur Baja (Steel Engineer Protractor)

https://santikoaji.blogspot.com/2016/07/alat-ukur-dalam-perbengkelan-las-karbit.html
Kumpulan alat ukur bengkel
Busur baja merupakan alat ukur sudut langsung dengan kecermatan sampai satu derajat. Oleh sebab itu hanya dipergunakan untuk mamperkirakan harga sudut secara kasar. Alat ini berupa suatu tembereng setengah lingkaran dari pelat baja dengan pembagian skala dalam satu derajat pada tepi lingkaran.
Satu pelat baja yang berengselkan pada titik pusat lingkaran, dapat berputar, sehingga bagian yang runcing berfungsi sebagai garis indeks untuk pembacaan skala yang merupakan harga sudut antara dasar tembereng dengan salah satu sisi pelat yang panjang. Jika sudut antara benda ukur terlalu kecil, sudut terpancung, atau karena dasar tembereng tidak cukup lebar, maka diperlukan bantuan suatu penyiku.

Penyiku

Alat ini terbuat dari bahan baja cor dan baja tipis dengan konstruksi menbentuk sudut tetap 90o. Alat ini berfungsi sebagai pembanding sudut siku benda kerja, dapat pula untuk memeriksa kerataan benda kerja.

Jangka

Alat ukur ini termasuk alat ukur yang sangat sederhana, sebab untuk menentukan nilai dari ukurannya harus menggunakan pembanding alat ukur lainnya, seperti mistar geser, mistar baja, dll.
Dalam pengukuran mengunakan jangka ini membutuhkan perasaan karena jangka adalah sebagai alat ukur pemindah. Ketelitian yang dicapai hanyalah 1/10 mm.
  1. Jangka ini dapat dibedakan menjadi :
  2. Jangka kaki untuk mengukur besarnya lubang.
  3. Jangka bengkok untuk mengukur besarnya benda kerja.
  4. Jangka tusuk, yang termasuk subagai alat melukis.

Dan jangka-jangka ini masih dibedakan lagi, antara lain; jangka yang memakai mur penyetel, dan jangka yang tidak memakai mur penyetel. Selain itu masih ada lagi yang dikombinasikan antara jangka bengkok dengan jangka kaki, bahkan dilengkapi dengan skala untuk mengukur garis tengah / besar benda kerja.