Showing posts with label Teori Behaviorisme. Show all posts
Showing posts with label Teori Behaviorisme. Show all posts

TOKOH TOKOH BEHAVIORISTIK - PAVLOV

https://santikoaji.blogspot.com/2018/10/tokoh-tokoh-behavioristik-pavlov.html
Patung Ivan petrovich pavlov


Tokoh - tokoh behavioristik yang akan dibahas pada halaman ini adalah Ivan Petrovich Pavlov

Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936)
Pavlov adalah seorang sarjana ilmu faal yang fanatik dan sangat anti terhadap psikologi yang kurang ilmiah. Ia terkenal dengan eksperimen mengenai refleks bersyarat atau refleks berkondisi yang dilakukan terhadap anjing yang mngeluarkan air liurnya. Menurutnya segala aktivitas kejiwaan pada hakikatnya merupakan rangkaian refleks.[1]

Menurut Pavlov, apabila anjing lapar dan melihat makanan, kemudian mengeluarkan air liur, ini merupakan respons yang alami, respons yang refleksif, yang disebut sebagai respons yang tidak berkondisi. Apabila anjing mendengar bunyi bel dan kemudian menggerakkan telinganya, ini juga merupakan respons yang alami. Bel sebagai stimulus yang tidak berkondisi dan gerak telinga sebagai respon yang tidak berkondisi. Persoalan yang dipikirkan Pavlov adalah apakah dapat dibentuk pada anjing suatu perilaku atau respons apabila anjing mendengar bunyi bel lalu mengeluarkan air liur. Hal inilah yang kemudian diteliti Pavlov secara eksperimental. Ternyata perilaku tersebut dapat dibentuk dengan cara memberikan stimulus yang berkondisi atau sebelum diberikan stimulus yang alami secara berulang kali. Hingga pada akhirnya akan terbentuk respons berkondisi, yaitu keluarnya air liur sekalipun stimulus yang wajar, yaitu makanan tidak diberikan.[2]

Percobaan itu diulang di sebuah kamar yang gelap. Bersama dengan perangsang makanan itu si pencoba memancarkan seberkas cahaya yang terang. Anjing itu tetap mereaksi refleksi dengan liurnya, dan ternyata liur itu sama banyak pula. Beberapa kali percobaan ini diulangi dan hasilnya sama. Kemudian perangsang yang diberikan kepada anjing itu hanya seberkas cahaya saja, yang berwarna merah. Anjing itu tetap mereaksi dengan kekuatan yang sama, meskipun hanya cahaya, tetapi apabila perangsang itu diganti dengan misalnya cahaya hijau, maka anjing itu tidak mereaksi apa-apa.[3]

Contoh lainnya adalah tindakan menakut-nakuti anak yang merengek minta jajan, lalu ibunya menakut-nakutinya bahwa itu bukan penjual makanan tetapi orang gila. Cara tersebut dilakukan secara berulang-ulang setiap kali anaknya minta jajan. Akhirnya, anak itu merasa takut kalau melihat pedagang yang lewat, karena ia berpikir bahwa penjual tersebut adalah orang gila.

Eksperimen yang menganut behaviourisme sama sekali tidak ada yang keliru, tetapi perlu dianalisis lebih mendalam bahwa percobaan yang dilakukan kepada seekor anjing dan seorang manusia dalam kasus serupa tidak akan berjalan abadi, karena seekor anjing hanyalah mengandalkan instingnya, tanpa akal dan tidak berusaha mengembangkan kebiasaannya. Sedangkan manusia bergerak dinamis dan dengan akalnya, ia dapat merekayasa dan meninggalkan kebiasaan.[4]

√ TEORI DAN PENGERTIAN BEHAVIORISTIK

Teori dan Pengertian Behavioristik adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya reaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dikatakan telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukan perubahan pada tingkah lakunya, apabila dia belum menunjukkan perubahan tingkah laku maka belum dikatakan bahwa ia telah melakukan proses belajar. Teori ini sangat mementingkan adanya input yang berupa stimulus dan output yang berupa respons.

https://santikoaji.blogspot.com/2017/03/teori-dan-pengertian-behavioristik.html
Teori dan pengertian behavioristik - Santika Aji

Dalam proses pembelajaran input ini bisa berupa alat peraga, gambar-gambar, atau cara-cara tertentu untuk membantu proses belajar (Budiningsih, 2003). Jadi, Teori belajar Behavioristik adalah teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk  reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka.

Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar, mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan.

Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioral dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini berpendapat bahwa tingkah laku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkah laku  adalah hasil belajar.

Teori utama dari Watson yaitu konsep stimulus dan respons (S-R) dalam psikologi. Stimulus adalah segala sesuatu obyek yang bersumber dari lingkungan. Sedangkan respon adalah segala aktivitas sebagai jawaban terhadap stimulus, mulai dari tingkat sederhana hingga tingkat tinggi. 

Watson tidak mempercayai unsur herediter (keturunan) sebagai penentu perilaku dan perilaku manusia adalah hasil belajar sehingga unsur lingkungan sangat penting. Pemikiran Watson menjadi dasar bagi para penganut behaviorisme berikutnya. Behaviorisme secara keras menolak unsur-unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai obyek studi dari psikologi, dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata.

Dengan demikian, Behaviorisme tidak setuju dengan penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang dipercayai oleh strukturalism. Berarti juga behaviorisme sudah melangkah lebih jauh dari fungsionalisme yang masih mengakui adanya jiwa dan masih memfokuskan diri pada proses-proses mental.

Meskipun pandangan Behaviorisme sekilas tampak radikal dan mengubah pemahaman tentang psikologi secara drastis, Brennan (1991) memandang munculnya Behaviorisme lebih sebagai perubahan evolusioner daripada revolusioner. Dasar-dasar pemikiran Behaviorisme sudah ditemui berabad-abad sebelumnya.

√ Behaviorisme dan PLS

Teori Behavioristik merupakan salah satu teori belajar yang sangat terkenal dan banyak memberi manfaat  bagi dunia pendidikan. Menurut Thorndike dalam Sugiharto, dkk (2012: 91). Pandangan behavioristik mengakui pentingnya masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respons. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respons dianggap tidak penting diperhatikan sebab tidak bisa diamati dan diukur. Yang bisa diamati dan diukur hanyalah stimulus dan respons.

Ciri - ciri Teori Behavioristik adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar, mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioral dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini berpendapat bahwa tingkah laku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkah laku  adalah hasil belajar.

Belajar

Belajar merupakan peristiwa tebentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (s) dan respon (r). Sedangkan belajar menurut psikologi behavioristik adalah suatu kontrol instrumen yang berasal dari lingkungan (Siregar, 2010: 25). Beberapa ilmuwan yang termasuk pendidri sekaligus penganut teori ini adalah Thorndike, Watson, Hull, Guthrie, Skinner.Teori  ini  beranggapan  bahwa  yang  dinamakan  belajar  adalah  perubahan tingkah   laku.
Seseorang dikatakan telah belajar sesuatu jika yang bersangkutan dapat menunjukkan perubahan tingkah laku tertentu.misalnya :
  1. Guru hendaknya paham tentang jenis stimulus apa yang tepat untuk diberikan kepada siswa.
  2. Guru juga mengerti tentang jenis respons apa yang akan muncul pada diri siswa.
  3. Untuk mengetahui apakah respons yang ditunjukkan siswa ini benar-benar sesuai dengan apa yang diharapkan, maka guru harus mampu :

  • Menetapkan bahwa respons itu dapat diamati (observable)
  • Respons yang ditunjukkan oleh siswa dapat pula diukur (measurable)c.  Respons yang diperlihatkan siswa hendaknya dapat dinyatakan secara eksplisit atau jelas kebermaknaannya.

Pendidikan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara, begitu definisi pendidikan yang terkandung dalam ketentuan umum di Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas). Untuk mencapai tujuan berdirinya Negara Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, instrument yang digunakan adalah pendidikan. Pendidikan yang berkualitas akan melahirkan manusia-manusia cerdas, kemudian akan menjadi agen perubahan untuk kehidupan berbangsa yang lebih baik. Paolo Freire seorang tokoh pendidikan menyatakan ada dua pandangan dunia yang mempersepsikan manusia dalam dunia pendidikan. Pandangan pertama melihat manusia sebagai objek, yang dapat dibentuk dan disesuaikan. Pandangan lainnya melihat manusia sebagai subyek, mahluk yang bebas dan mampu melampaui dunianya.

Pendidikan Luar Sekolah

Pendidikan luar sekolah adalah semua bentuk pembelajaran di luar sistem persekolahan yang diorganisasi, disengaja, direncana untuk membantu masyarakat memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan untuk memperbaiki kehidupannya.

Layanan pendidikan luar sekolah terbagi menjadi 3 program berikut, yaitu pengembangan masyarakat (developmental), program kelembagaan (institutional), program penerangan atau informasional (informational). Layanan pendidikan luar sekolah dalam konteks informasional bertujuan agar terjadi pertukaran informasi antar kelompok masyarakat. Informasi adalah adalah pesan (ucapan atau ekspresi) . Informasi bisa di katakan sebagai pengetahuan yang didapatkan dari pembelajaran, pengalaman, atau instruksi. Namun, istilah ini memiliki banyak arti bergantung pada konteksnya, dan secara umum berhubungan erat dengan konsep seperti pengetahuan, persepsi, stimulus, komunikasi, kebenaran, representasi, dan rangsangan mental.

Pendidikan keluarga

Pengertian dari pendidikan keluarga adalah proses transformasi prilaku dan sikap di dalam kelompok atau unit sosial terkecil dalam masyarakat. Sebab keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan utama dalam menanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan prilaku yang penting bagi kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.

Fungsi pendidikan dalam keluarga tak terlepas dari peranan ayah dan ibu yang memiliki beberapa turunan fungsi yang bersifat kultur (pendidikan budaya) untuk mempartahankan budaya dan adat keluarga, bersifat religi (pendidikan agama) agar kehidupan dalam keluarga berjalan dengan baik, sejahtera , tentram dan terarah. Selain itu, bersifat ekonomis (pendidikan ekonomi) sehingga tidak tercipta krisis keuangan keluarga, bersifat sosialisasi (pendidikan sosial) agar menciptakan suasana yang kondusif baik secara internal maupun eksternal, bersifat protektif (pendidikan proteksi) untuk melindungi wahana keluarga dari pengaruh apapun atau faktor apapun yang  merugikan bagi keluarga dan lainya.

Beberapa hal yang memegang peranan penting keluarga sebagai fungsi pendidikan dalam membentuk pandangan hidup seseorang meliputi pendidikan berupa pembinaan akidah dan akhlak, keilmuan dan atau intelektual dan kreativitas yang mereka miliki serta kehidupan pribadi dan sosial.

Behaviorisme dan PLS

Pendidikan dalam keluarga adalah pendidikan yang pertama kali didapatkan oleh seorang anak ketika dia dilahirkan keatas dunia bahkan semenjak dalam kandungan. Seorang anak akan mencontoh apa saja yang diperbuat oleh orang – orang sekelilingnya. Terlebih – lebih pengaruh lingkungan keluarga yang diberikan oleh orang – orang terdekat. Semisal ayah, ibu, kakek, nenek dan famili dekat lainnya.

Pandangan behaviorisme menjelaskan bahwa tingkah laku ( behavior )  manusia ditentukan oleh pengararuh lingkungan yang dialami oleh individu yang bersangkutan. Lingkungan adalah penentu tunggal dari tingkah laku manusia. Jika ingin merubah tingkah laku manusia, perlu persiapan kondisi lingkungan yang mendukung kearah perubahan itu.

Pendidikan yang didapatkan oleh seorang anak dalam keluarga (pendidikan nonformal) dalam istilah Pendidikan Luar Sekolahya. Jika kita menginginkan seorang anak yang berkepribadian baik maka tempatkanlah anak dalam lingkungan yang kondusif, disini dituntut peranan Ayah dan Ibu serta peranan anggota keluarga lainnya.

Proses belajar pada dunia pendidikan dianggap sebagai transfer of knowledge, beranggapan bahwa peserta didik adalah botol kosong yang dapat diisi sesuai dengan kehendak pendidik. Pendidik dan anak didik  terlihat seperti relasi antara penguasa dan yang dikuasai.  Paradigma ini lebih dipengaruhi oleh teori behaviorisme. Behaviorisme memandang pengetahuan sebagai suatu yang eksternal dan proses belajar sebagai kegiatan internalisasi pengetahuan. Hasil dari proses belajar  teori ini adalah perubahan tingkah laku, layaknya mesin yang dimasukkan program kemudian program itu berjalan sebagaimana program yang telah dibuat tersebut.

REFERENSI
Budiningsih, C. Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta
Burhanuddin, dkk. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran, Yogyakarta An-Ruzz Media
Barnadib, Imam, 1988, Kearah Prospektif baru Pendidikan, Jakarta,Dep Dik Bud. Ditjen P.T. P2LPTK.
Jalaluddin Rahmat. Psikologi Komunikasi. Bandung : Rosda Karya

Demikian tulisan tentang behaviorisme dan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) dalam blog ini. Semoga dapat bermanfaat sebagai referensi dan sebagainya. Bagi sahabat - sahabat sekalian jika ada kritik dan saran silahkan tulis pada kolom komentar yang terdapat pada bagian bawah blog ini. Karena blog Santika Aji masih dalam tahap pengembangan, kritik dan saran sahabat sekalian sangat berarti bagi perkembangan blog ini.
Terima kasih.

√ Prinsip-Prinsip Belajar Behaviorisme

Prinsip-Prinsip Belajar Behaviorisme - Teknik Behaviorisme adalah teori tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Pelopor teori behavioristik adalah Thorndike (1913), Pavlov (1927) dan Skiner (1974). Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. 

Teori behavioristik menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.  Teori belajar behavioristik telah digunakan dalam pendidikan untuk waktu yang lama, yaitu untuk mendorong perilaku yang diinginkan dan untuk mencegah perilaku yang tidak diinginkan. Teori behavioristik menganggap bahwa belajar adalah tingkah laku yang dapat diamati yang disebabkan oleh adanya stimulus dari luar. 
https://santikoaji.blogspot.com/2016/05/prinsip-prinsip-belajar-behaviorisme.html
Tokoh Behaviorisme B.F Skiner

Stimulus dan Respons

Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa misalnya alat peraga, gambar atau charta tertentu dalam rangka membantu belajarnya. Stimulus ini dapat terintegrasi dengan baik melalui perencanaan program pembelajaran yang baik lengkap dengan alat-alat yang membentu siswa mencapai tujuan belajar. Sedangkan respons adalah reaksi siswa terhadap stimulus yang telah diberikan oleh guru tersebut, reaksi ini haruslah dapat diamati dan diukur.


Secara garis besar alat penilaian untuk mengetahui reaksi siswa dapat diklasifikasikan dalam 2 hal, yaitu tes dan non tes. Sedangkan untuk mengamatinya dapat dilakukan dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK sendiri ada 4 (empat) tahapan yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan evaluasi. PTK dilakukan minimal 2 (dua) siklus.


Reinforcement (penguatan)

Konsekuensi yang menyenangkan akan memperkuat perilaku disebut penguatan (reinforcement) sedangkan konsekuensi yang tidak menyenangkan akan memperlemah perilaku disebut dengan hukuman (punishment).  Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.

Teori behaviorisme menganggap belajar adalah perubahan tingkah laku dari stimulus yang menunjukkan perubahan tingkah laku tertentu, hal terpenting yang harus dinilai adalah stimulus dan respon. Penguatan harus dilakukan agar menambah hubungan antara stimulus dan rspon.

Oleh karena itu jika ingin siswa berhasil guru harus memperhatikan prinsip berikut guna menilai suatu dari keberhasilan. Pertama guru harus tahu stimulus yang tepat untuk diberikan kepada siswa. Kedua, guru harus tahu nanntinya respon apa yang timbul ketika sudah diberika stimulus


Penguatan positif dan negatif

Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat.

Pemberian stimulus positif yang diikuti respon disebut penguatan positif, misalnya dengan memuji siswa setelah dapat merespon pertanyaan guru. Sedangkan mengganti peristiwa yang dinilai negatif untuk memperkuat perilaku disebut penguatan negatif, misalnya apabila siswa mampu mengerjakan tugas dengan sempurna maka diperbolehkan tidak mengikuti ulangan.


Penguatan primer dan sekunder

Penguat primer adalah penguatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan fisik seperti air, makanan, udara dll. Sedangkan penguatan sekunder adalah penguatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan non fisik seperti pujian, pangkat, uang dll.


Kesegeraan memberi penguatan (immediacy)

Penguatan hendaknya diberikan segera setelah perilaku muncul karena akan menimbulkan perubahan perilaku yang jauh lebih baik dari pada pemberian penguatan yang diulur-ulur waktunya. Penguatan dapat dilakukan secara terus menerus atau berantara. Jika setiap respons diikuti dengan penguatan, maka tindakan ini dinamakan penguatan secara terus menerus. Sebaliknya, jika sebagian respons yang mendapatkan penguatan, tindakan ini disebut penguatan secara berantara.


Pembentukan perilaku (Shapping)

Menurut skinner untuk membentuk perilaku seseorang diperlukan langkah-langkah berikut : Mengurai perilaku yang akan dibentuk menjadi tahapan-tahapan yang lebih rinci; 2. menentukan penguatan yang akan digunakan; 3. Penguatan terus diberikan apabila muncul perilaku yang semakin dekat dengan perilaku yang akan dibentuk.


Kepunahan (Extinction)

Kepunahan akan terjadi apabila respon yang telah terbentuk tidak mendapatkan penguatan lagi dalam waktu tertentu.

Demikianlah artikel tentang prinsip prinsip belajar behaviorisme dalam blog Santika Aji ini. Jika sahabat sekalian ingin mencari artikel lain terkait dengan teori pendidikan, pembelajaran, atau teknik mesin, silahkan untuk memilih artikel dari kolom pencarian pada blog ini atau sahabat juga dapat melihat pada bilah sisi kanan untuk mencari konten yang relevan dan sesuai kelompok tema artikel.
Terima kasih

√ Tokoh - Tokoh Behaviorisme - Albert Bandura

Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Dimana teori ini dianut oleh oleh Gage dan Berliner. Terdapat beberapa ilmuwan yang termasuk pendiri dan penganut teori ini, antara lain adalah Thorndike, Watson, Hull, Guthrie, dan Skinner. Dalam blog Santika Aji pembahasan tentang tokoh - tokoh behaviorisme tersebut akan dibuat menjadi beberapa halaman. Dalam halaman ini tokoh behaviorisme yang akan dibahas adalah Albert bandura.
https://santikoaji.blogspot.com/2016/05/tokoh-tokoh-behaviorisme_4.html
Tokoh behaviorisme - Albert bandura

Sejarah Albert bandura lahir di Canada, memperoleh gelar Ph. D dari University of Iowa dan kemudian mengajar di Stanford University. Sebagai seorang behaviorist, Bandura menekankan teorinya pada proses belajar tentang respon lingkungan. Oleh karenya teorinya disebut teori belajar sosial, atau modeling. Prinsipnya adalah perilaku merupakan hasil interaksi resiprokal antara pengaruh tingkah laku, koginitif dan lingkungan. Singkatnya, Bandura menekankan pada proses modeling sebagai sebuah proses belajar.

Teori utama Albert bandura yaitu observational learning atau modeling adalah faktor penting dalam proses belajar manusia. Dalam proses modeling, konsep reinforcement yang dikenal adlaah vicarious reinforcement, reinforcement yang terjadi pada orang lain dapat memperkuat perilaku individu. Self-reinforcement, individu dapat memperoleh reinforcement dari dalam dirinya sendiri, tanpa selalu harus ada orang dari luar yang memberinya reinforcement. Menekankan pada self-regulatory learning process, seperti self-judgement, self-control, dan lain sebagainya. Memperkenalkan konsep penundaan self-reinforcement demi kepuasan yang lebih tinggi di masa depan

Sumbangan Bandura adalah membuka perspektif baru dalam aliran behavioristik dengan menekankan pada aspek observasi dan proses internal individu. Bagi mereka yang beraliran kognitif, pandangan Bandura ini dirasakan lebih lengkap dibandingkan pandangan ahli behavioristik lainnya. Teorinya ini juga didukung oleh percobaan eksperimental yang dapat dipertanggungjawabkan

Kritik yang dilontarkan terhadap Bandura terutama datang dari kelompok aliran behavioristik keras, yang memandang Bandura lebih tepat untuk dimasukan dalam kelompok aliran kognitif dan tidak diakui sebagai bagian dari behavioristik. Penyebab utamanya karena pandangan Bandura yang kental aspek mentalnya.

Demikian pembahasan tentang tokoh behaviorisme yaitu Albert Bandura. Jika ada kritik dan saran silahkan tulis pada kolom komentar. Karena blog ini masih dalam tahap pembenahan sehingga kritik dan saran dari sahabat sekalian akan sangat membantu kemajuan blog ini.

Santika Aji berterima kasih banyak kepada sahabat-sahabat sekalian yang telah berkunjung pada blog ini. Dalam blog ini terdapat artikel lain seputar behaviorisme, teori pembelajaran, teori pendidikan, penelitian tindakan kelas, teori las, teori otomotif, teori produktif dan tulisan - tulisan lainya. Jika sahabat sekalian ingin mencari tulisan yang sesuai dengan keinginan sahabat, silahkan menggunakan kolom pencarian pada bagian atas blog ini, atau sahabat sekalian juga dapat mengeklik tag atau label yang terdapat pada bagian kanan blog ini (untuk desktop/komputer) atau terdapat pada bagian bawah blog (versi mobile/handphone).